Jumat, 14 November 2014

Alasan

1.      Aku senang kau memberi kejelasan. Setidaknya aku sudah mengetahui sibukmu menjauhiku. Andai kau katakan semuanya sejak awal. sejak hati sedang mengira ira apa yang kau lakukan. Mungkin aku tak segera menghubungimu. Mungkin juga aku masih kuat demi wajibmu. Semua yang kau lakukan tidaklah salah bahkan itu sangat benar. Hanya andai kau bicarakan sejak awal, aku rasa itu jauh lebih baikkan hati. Ya sekarang aku lagi mampu menahan. Tapi jika nanti! aku belum tahu. Aku takut tak bisa mengubur salahmu dalam-dalam. Mengingat ingat hingga tak lagi ada harmonisnya kita, saat ini takutku dihantui ketakutan akut. Aku berontak. Tapi semakin ku berontak melawan akut semakin benci pula ku pada takutnya berontakan. otakku berkeling antara menahan dan mengingat. Dan sudah ku putuskan, ku memilih menahan untuk tak mengingat jadinya kehacuran. 

Berharap Kamu Segera Sembuh

Aku berada pada terikan panas ketakutan. Menyengat kuat setiap pikir tentang kejikaan. Aku tak tahu betapapun aku begitu tak berarti dalam jiwamu. Kerena apa yang tertunjukkan tak lagi sama dengan ucap janji lima November dua ribu tiga belas. Janji yang tersematkan penuh kestimewaan. Janji yang sempat terucap tegas bagaimana kau begitu mencintai, bagaimana kau begitu mengasihi. Namun semua telah terdustai. 
Kamu yang selalu menjanjikan temu tak lagi berujung temu. Kau yang menjanjikan rindu tak lagi rindu. Ya, karena alasan yang selalu kau sebut-sebut demi masa depanmu, masa depan kita. Masa dimana aku dan kamu berada dalam satu keadaan yang suci, bersih, tanpa noda dan dosa. Menjalin erat dengan dasaran cinta. 
Huhh, kurasa ini hanya impian terlalu tinggi tuk perempuan sepertiku.
Berbulan saja kau enggan menoleh apalagi bertahun? Entahlah, tak ada yang bisa ku jabarkan. Semua tingkahmu menutup rapat artinya kita. Segala lagumu menggulung kuat inginmu. Kau menyimpan rahasia yang seakan tak bisa ku ketahui. Aku menebak nebak tentang hal itu. Mencoba berpikir sendiri, mencari tahu sendiri. Namun akhirnya kandas yang terselipkan. Aku tak pernah berhasil menjawab tebakan yang kau ciptakan. Begitu sulit ku temukan makna dari semuanya.
Tuan, apa yang sedang terjadi dalam dirimu. Kenapa kau anggap aku seakan bualan yang harus kau muntahkan. Kau menyamaiku tak lebih dari duri pencekam hidupmu. Aku tak tahu lagi harus memerankan watak seperti siapa. Menjadikan diriku seperti bagaimana, aku tak tahu.
Tidakkah kau lihat betapa bersusah payahnya aku memerankan, betapa sulitnya aku menjadi mereka agar bisa kau sayang tulus-tulus, seperti apa yang mereka lakukan demi untuk kebahagiaan mereka. Tidakkah kau ingin sembuh dari rabun dekatmu? Yang begitu tega menggunjing perasaanku kuat-kuat. Mengasihi harap dengan menjadikan tunggu dan nanti yang tak berkunjungan. Tidakkah kau ingin sembuh? Lalu terbelalak dengan diriku yang selalu berharap kamu segera sembuh.
Tidakkah?

Dari seseorang yang selalu mengharap kamu segera sembuh
Perempuanmu.